BULLYING
BULLYING

PENGERTIAN
Coloroso (2007) menyatakan bahwa
bullying merupakan tindakan intimidasi yang dilakukan oleh pihak yang lebih
kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Bullying merupakan tindakan yang
disadari, dimaksudkan untuk melukai, disengaja, dan menciptakan ketakukan
melalui ancaman agresi lebih lanjut. Bullying melibatkan tiga unsur, yaitu ketidakseimbangan
kekuatan, berniat untuk mencederai, dan ancaman agresi yang dilakukan berulang
kali dalam jangka yang panjang. Jika ketiga unsur tersebut meningkat, maka akan
menyebabkan timbulnya unsur keempat yaitu teror. Teror merupakan kekerasan yang
digunakan untuk mengintimidasi dan memelihara dominasi secara sistematik.
Coloroso (2007) mengelompokkan perilaku bullying menjadi tiga jenis yaitu
bullying verbal, bullying rasional, dan bullying fisik. Bullying verbal adalah
digunakannya kata-kata atau lisan untuk menindas dan/atau menyakiti.
DAMPAK
Dampak
Dampak bullying dapat mengancam setiap pihak yang terlibat, baik anak- anak
yang di-bully, anak-anak yang mem-bully, anak-anak yang menyaksikan bullying,
bahkan sekolah dengan isu bullying secara keseluruhan. Bullying dapat membawa
pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental anak. Pada kasus yang
berat, bullying dapat menjadi pemicu tindakan yang fatal, seperti bunuh diri
dan sebagainya. Dampak dari bullying adalah:
a. Dampak
bagi korban. - Depresi dan marah - rendahnya tingkat kehadiran dan rendahnya
prestasi akademik siswa, - Menurunnya skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan
analisis siswa.
b. Dampak
bagi pelaku. Pelaku memiliki rasa percaya diri yang tinggi dengan harga diri
yang tinggi pula, cenderung bersifat agresif dengan perilaku yang pro terhadap
kekerasan, tipikal orang berwatak keras, mudah marah dan impulsif, toleransi
yang rendah terhadap frustasi. Memiliki kebutuhan kuat untuk mendominasi orang
lain dan kurang berempati terhadap targetnya. Dengan melakukan bullying, pelaku
akan beranggapan bahwa mereka memiliki kekuasaan terhadap keadaan. Jika
dibiarkan terus menerus tanpa intervensi, perilaku bullying ini dapat 3
menyebabkan terbentuknya perilaku lain berupa kekerasan terhadap anak dan
perilaku kriminal lainnya.
c. Dampak
bagi siswa lain yang menyaksikan bullying (bystanders). Jika bullying dibiarkan
tanpa tindak lanjut, maka para siswa lain yang menjadi penonton dapat berasumsi
bahwa bullying adalah perilaku yang diterima secara sosial. Dalam kondisi ini,
beberapa siswa mungkin akan bergabung dengan penindas karena takut menjadi
sasaran berikutnya dan beberapa lainnya mungkin hanya akan diamsaja tanpa
melakukan apapun dan yang paling parah mereka merasa tidak perlu
menghentikannya.
PENCEGAHAN
Pencegahan Dilakukan
secara menyeluruh dan terpadu, dimulai dari anak, keluarga, sekolah dan
masyarakat.
1) Pencegahan
melalui anak dengan melakukan pemberdayaan pada anak agar : a. Anak mampu
mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya bullying b. Anak mampu melawan
ketika terjadi bullying pada dirinya c. Anak mampu memberikan bantuan ketika
melihat bullying terjadi (melerai/mendamaikan, mendukung teman dengan
mengembalikan kepercayaan, melaporkan kepada pihak sekolah, orang tua, tokoh
masyarakat)
2) Pencegahan
melalui keluarga, dengan meningkatkan ketahanan keluarga dan memperkuat pola
pengasuhan. Antara lain : a. Menanamkan nilai-nilai keagamaan dan mengajarkan
cinta kasih antar sesama b. Memberikan lingkungan yang penuh kasih sayang sejak
dini dengan memperlihatkan cara beinterakasi antar anggota keluarga. c.
Membangun rasa percaya diri anak, memupuk keberanian dan ketegasan anak serta
mengembangkan kemampuan anak untuk bersosialiasi d. Mengajarkan etika terhadap
sesama (menumbuhkan kepedulian dan sikap menghargai), berikan teguran mendidik
jika anak melakukan kesalahan e. Mendampingi anak dalam menyerap informasi
utamanya dari media televisi, internet dan media elektronik lainnya.
3) Pencegahan
melalui sekolah a. Merancang dan membuat desain program pencegahan yang berisikan
pesan kepada murid bahwa perilaku bully tidak diterima di sekolah dan membuat
kebijakan “anti bullying”. b. Membangun komunikasi efektif antara guru dan
murid c. Diskusi dan ceramah mengenai perilaku bully di sekolah d. Menciptakan
suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan kondusif. e. Menyediakan
bantuan kepada murid yang menjadi korban bully. f. Melakukan pertemuan berkala
dengan orangtua atau komite sekolah .
Komentar
Posting Komentar